Jumat, 15 Februari 2019

Kenapa kuliah Analis Medis

Ini bukan tujuan utama saya. Target saya adalah ahli gizi atau dokter hewan. Keren kali ya bisa jadi konsultan gizi atau ngobatin kucing-kucing lucu, ya meskipun aku nggak pecinta kucing juga hehe. Saya berakhir disini karena berbagai penolakan melalui berbagai tes, tidak saya sebutkan karena akan sangat panjang rangkaiannya. Dan Alhamdulillah Unair masih mau menerima saya walaupun pernah saya tolak, hehe seperti kisah cinta saja ya. Ya saya sempat diterima Unair di jurusan K3, saat itu saya hanya coba-coba ikut tes dan sekalian cari pengalaman berangkat ke kota besar sendirian (tanpa orang tua, tapi tetap dengan teman). Pengumumannya datang lebih cepat dibanding pengumuman SBMPTN. Jadilah saya dengan percaya diri menolak, padahal sbm juga belum tentu saya diterima. Kau taulah manusia seperti apa, kadang suka lupa darat. Dan sayang sekali saya sering seperti itu, jangan ditiru. Waktu itu hati saya yakin jika saya akan diterima sbm, keyakinan yang berlebihan mungkin. Dan Allah tidak menyukai semua hal yang berlebihan.
Setelah gagal sbm, berbagai tes saya lalui dengan berbagai kota yang saya datangi. Saya lolos UTUL UGM, sudah saya urus semua berkasnya terrmasuk tesbebas narkoba yang lumayan menguras dompet juga sudah saya lakukan. Langkah terakhir adalah membayar UKT sebelum daftar ulang secara ofline di Jogja. Belum saya bayar, Unair mengeluarkan pengumuman dan saya juga lolos di Vokasi Unair. Karena di UGM saya juga diterima di Vokasi, maka saya lebih memilik UNAIR. Apalagi beban UKT juga jauh lebih murah di Unair. Dan alhasil saya masuk di prodi Teknologi LAboratorium Medis (sebelumnya Analis medis atau Anmed).
Untuk tes vokasi yang kedua ini kenapa saya lebih memilih analis daripada hiperkes keselamatan kerja karena keketatannya. Analis memiliki lebih banyak pesaing, sebarnya konyol ya kok malah saya cari saingan yang banyak. Tapi disamaping itu salah satu teman ada yang memberikan saya informasi mengenai analis medis, jadilah saya memilih dia.
Saya tidak menyesal dengan pilihan saya ini. Karena target lain saya adalah saya ingin mendalami ilmu kesehatan dengan berbagai alasan yang terus berputar-putar dikepala saya. Dan analis tidaklah salah, banyak ilmu yang saya peroleh untuk bisa saya terapkan di kehidupan sehari-hari. Disamping itu saya sangat bersyukur karena dosen pengisi kuliah saya adalah orang hebat dan kebanyakan dari beliau adalah dokter senior yang memiliki gelar panjang dibelakang namanya. Semoga saja esok entah kapan saya juga dapat berkesampatan memiliki gelar yang sama panjang atau lebih panjang dari beliau. amin... doakan saya yaa

Categories:

Kamis, 14 Februari 2019

Mulai Kuliah adalah Mulai Menyakiti Diri danTeman

Minggu ini adalah awal semester genap. Saya sendiri baru semester dua, maba. Kuliah rasanya malas, asik juga main dirumah, maklum maba hehe. Semester ini saya dibebani 22 SKS, satu lebih sedikit jika dibandingkan semester kemaren. Tetapi sialnya lebih banyak praktikum, pake banget dibanding semester lalu. Meskipun 22 SKS bukan berarti saya seminggu kuliah selama 22jam. Fyi lebih banyak dari 22 jam karena banyaknya materi praktikum dan praktikum yang memakan waktu lama. Masuk kuliah artinya saya harus siap untuk ditusu-tusuk jarum ataupun diswab atau apapun yang berpeluang untuk malapraktik, ditambah yang melakukan tindakan adalah teman saya sendiri atau bahkan terkadang saya yang mengambil tindakan untuk teman saya. Hematom adalah hal yang lumrah, ngeri bukan. Ditusuk jarum dan ditinggal lari juga pernah saya alami. Saya juga pernah pinsan sewaktu demo plebhotomy  wkwkw memalukan yaa... tapi keseluruhan saya jadi menambah ilmu banyak. Dan banyak yang harus saya syukuri. Lain kali saya igin bercerita kenapa saya bisa berada disini. Dikampus kedokteran, tapi bukan bagian dari fakultas kedokteran. Lucu memang, biar saya saja yang tertawa.

Categories:

Selasa, 12 Februari 2019

Jakarta-Surabaya PP Rp250.000,00 (KAI Gumarang Eks dan Bis)

 Desember 2018 saya lupa kapan tepatnya, PT. KAI memberikan promo tiket kereta dalam acara #13LuckyDays. Tiket promo hanya tersedia pada awal bulan Desember dan akhir bulan Januari, itupun tiket yang tersedia terbatas. Beruntunglah saya mendapat informasi ini cepat dari story Zidan (makasih Papa sudah menjelaskan promo ini dengan cepat kepadaku).
Setelah mengecek promo tersebut di instagram resmi PT. KAI (@keretaapikita) dan mengecek harga di KAI Access. Saya langsung menghubungi Sazkia (Teman SMP SMA saya yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia). Sazkia menyambut antusiasme saya untuk melancong menemuinya. Akhirnya kita diskusi tanggal dan kembali memastikan harga. Setelah disepakati saya langsung pesan melalui aplikasi KAI Access. Saat itu juga saya memesan tiket berangkat dan tiket pulang. Berangkat tanggal 29 Januari 2019, sekalian Sazki balik ke perantauan. Harga yang kami dapat untuk berangkat Rp100.000,00 per orang (Gumarang Bisnis). Lalu untuk pulangnya saya jadwalkan tanggal 2 Februari 2019 sore, saya menggunakan Gumarang Eksekutif seharga Rp150.000,00. Padahal harga asli Eksekutif yang saya tahu bisa mencapai Rp500.000,00 dan harga bisnis bisa mencapai Rp300.000,00. Saya menggunakan layanan yang berbeda karena memang saya sengaja hehe, 'kapan lagi kan' pikir saya. Dan ini adalah pengalaman pertama saya naik kereta sejauh itu dan menggunakan kereta yang bukan ekonomi (maklum mahasiswa, ga punya kerjaan sampingan pula hehe).
Saat booking tiket waktu menunjukkan tengah malam dan saya tidak berani untuk sekedar keluar ke ATM, maklum perempuan. Akhirnya saya cari teman yang bisa membantu saya  untuk membayar dengan mobil banking atau siapapun yang bersedia membayarkan terlebih dahulu dengan cara apapun. Keberuntungan sedang tidak bersahabat dengan saya, nihil. Akhirnya dengan ide cerdik, setiap jam akan saya ulangi pembokingan (setiap satu jam jika tiket yang sudah dipesan tidak dibayar maka akan ter-cancle secara otomatis). Sialnya ditengah rutinitas menunggu boking-an tercancle saya malah ketiduran. Dan yang patut disyukuri, menjelang subuh tiketnya masih ada dan segera saja saya booking. Selepas subuh saya sendirian nekat pergi ke alfamart (karena ini yg paling deket kos) untuk membayar tiket sejumlah Rp350.000,00 karena berangkatnya saya bersama Sazkia.
Perbedaan antara kerata bisnis dan eksekutif hampir sama dengan perbedaan bis ekonomi dan patas wkwk. Eksekutif menyediakan bantal dan selimut  secara gratis, kalau bisnis harus nyewa seharga Rp7000,00 untuk bantal dan saya kurang tau untuk selimut. Eksekutif kursi antar penumpang bersekat dan bisa dimiringkan sandarannya, tapi bisnis tidak. Dan yang saya suka ketika berangkat naik bisnis, gerbong sepi banget. Akhirnya kursi yang tadinya depan belakang saya ubah jadi hadapan hadapan, dan yang tadinya kursi untuk dua orang saya pakai untuk diri sendiri.
Oiya selalu hati-hati saat ditempat umum, tas kalau bisa berada didepan. Ketika saya di Stasiun Pasar Senin tas punggung saya dibuka ketika saya jalan, sejenis modus pencopetan. untung saja tas saya isi utamanya adalah baju dan saya segera tersadar ketika sabun cuci muka saya ketika itu jatuh.

Categories:

Sabtu, 09 Februari 2019

Suka Makan


Dari kecil saya tidak pernah bermasalah degan makanan, asalakan rasanya masuk akal dan tidak pahit. Oh tapi saya suka beberapa rasa yang tidak masuk akal seperti nasi dengan es sirup waktu kecil. Saya adalah tipikal orang pemakan segala, tidak pilih-pilih makanan asalkan bersih dan enak hehe. Semakin saya besar kebiasaan suka makan ini agak sedikit mengusik saya karena ternyata beberapa teman lelaki yang sempat dekat dengan saya tidak menyukai kebiasaan makan saya ini. Kamu tau, saya sangat sedih. Bagi saya makanan adalah kebahagiaan, bukan doi saja yang bisa membuat bahagia. Padahal saya rasa makanan tidak banyak berperan dalam mengubah berat badan saya, meskipun saya tergolong tidak kurus tapi saya rasa masih jauh juga dari kata gemuk. Puncak-puncak saya gemuk adalah ketika SD kelas 4 atau 5, saya lupa. Berat badan saya waktu itu mencapai 48kg dan sehari bisa makan empat sampai delapan kali. Saya rasa itu tidak murni dari keinginan saya sendiri untuk makan, pasalnya saya mengonsumsi vitamin pada saat itu. Saya mengonsumsi vitamin dikarenakan saya sakit, dan vitamin tetap saya minum ketika sembuh dan akhirnya nafsu makan saya meningkat drastis. Masuk SMP berat badan turun banyak karena jauhnya sekolah dan saya bersepeda, padatnya aktifitas, dan makan saya lebih sedikit. Dari dulu sampai sekarang saya adalah penggemar jajan yang berbau minyak dan hangat, saya rasa ini memang tidak sehat. Saya bisa jajan banyak dan sampai lupa makan karena kekenyangan jajan. Saya juga suka makanan ringan yang rasanya asin dan pedas. Saya tidak terlalu antusias dengan makanan manis, tapi kalau minuman manis sih beda cerita hehe. Karena saya suka makanan, saya selalu antusias dengan usaha makanan apapun bentuknya. Ibu saya juga penyuka makan, beliau adalah orang yang sering mencoba warung ataupun kedai makanan baru. Ibu adalah orang yang bisa menilai makanan enak atau tidak hanya dari penampilan luarnya, hebat bukan. Nah tapi keahlian tersebut belum menurun pada diri saya hmm…

Categories:

Senin, 28 Januari 2019

Y O G Y A K A R T A [Penyewaan Sepeda Motor Mahasiswa]


Ide sewa motor ini saya dapat dari teman saya yang kuliah di Jogja sekaligus pemilik rumah yang saya tempati selama di Jogja, Nizar. Awalnya kami merencanakan perjalanan menggunakan grab atau go jek, tetapi jarak yang terpisah lebar antara satu wisata ke wisata yang lain mengakibatkan mahalnya tarif. Akhirnya kami disarankan Nizar untuk menyewa motor daripada uang kami habis hanya untuk akomodasi. Menurut informasi yang saya dapatkan dari Nizar, sewa motor selama 12 jam dikenai tarif Rp25.000,00. Di kawasan Jogja lumayan banyak penyewaan motor, khusunya penyewaan motor mahasiwa. Jadi siapkan KTP dan KTM (Kartu Tanda Mahasiwa) jika ingin menyewa motor.

Pagi sekitar pukul 8, berbekal google kami mencari tempat penyewaan yang paling dekat tanpa memperdulikan review pengguna google lain. Ujung dari perbuatan kami adalah, kami merasa tertipu oleh google wkwk. Jadi sebenarnya ada tempat penyewaan yang oke banget menurut rating google, tapi jaraknya 3km (jauh menurut kami, soalnya kami malas hahaha). Akhirnya kami memilih yang paling dekat sekitar 700m, dan berangkatlah saya dan Bella menggunakan motor Nizar yang ujung-ujungnya bingung ketika google maps  menyatakan kami selesai atau sampai tujuan tapi disekitar kami tidak ada tanda-tanda penyewaan motor. Berbekal kekesalan kami yang disasarkan google, jadilah kami hanya mengandalkan mulut kami untuk bertanya pada warga sekitar. Warga Jogja ramah dan baik, jadi kecil kemunkinan untuk ditipu atau semacamnya. Toh sepertinya tidak ada untungnya menipu kami hehe. Berbekal  arahan dari warga akhirnya saya mendapatkan tempat penyewaan motor mahasiswa seharga Rp30.000,00/12 jam dan Rp60.000,00/hari, tidak ada potongan harga untuk menyewa sehari. Saya ditanya mahasiswa universitas mana dan dijogja sedang apa. Lalu Bapak yang memiliki penyewaan juga menerangkan beberapa persyaratan penyewaan seperti yang saya tulis diatas. Karena harga berubah dari perkiraan, maka saya harus berunding dengan teman-teman terlebih dahulu, jadilah saya meminta nomor telepon si bapak untuk mengabari apabila saya jadi menyewa motor, agar si bapak juga bisa menyiapkan motor sebelum kami ambil. Setelah semua sepakat kami akhirnya kami menyewa 3 motor. Harusnya kami juga meminjam 5 helm, tapi saya awalnya lupa tanya dan bilang. Ternyata hanya ada 2 helm, jadilah kami meminjam helm 1 lagi di Nizar dan yang dibonceng tidak mengenakan helm selama perjalanan. Sebelum berangkat, kami diarahkan bapak pemilik penyewaan motor untuk mengecek STNK yang berada di jog motor dan bensin berada dibatas garis 3, ketika kembali harus sama seperti semula. Ketika mengambil motor, jam inilah yang tertulis pada kwitansi dan nantinya menjadi patokan kami untuk mengembalikan.

Sebelum berangkat kami harus mengisi bensin dan mengecek angin ban motor kami di SPBU terdekat. Kami mengisi masing-masing motor Rp10.000,00. Dan alhamdulillahnya itu cukup sampai pulang. Setelah kami selesai jalan-jalan, garis bensin kembali seperti semula yang artinya kami tidak perlu untuk mengisinya lagi.

Menurut informasi dari teman saya dan pengalaman kami memang di Bantul tidak terlalu ketat aturan lalu lintasnya. Kami sewaktu perjalanan juga sempat beriringan dengan polisi, dan senam jantung. Lalu  kami juga melihat disekeliling ternyata tidak hanya kami yang menggonceng tanpa helm, ada juga warga sekitar yang seperti itu. Tindakan kami salah, kami sadar. Jadi penting untuk memastikan di penyewaan motor memiliki helm yang cukup atau tidak, ok!

Y O G Y A K A R T A [Girls Day Out]


Sebelum subuh saya sudah siap dan berangkat ke Bojonegoro, salat subuh diperjalanan dan sampai di terminal pada pukul lima pagi. Janjian kumpul jam 6, dan tepat. Saya berangkat ke Jogja bersama Bella, Niken, Nanda, Aldhia, dan Nizar naik tayo (bis) dengan tarif Rp25.000,00. Untuk sampai di Jogja kami harus ganti bus di Terminal Ngawi. Tayo pertama yang datang adalah tayo ekonomi, karena penuh sesak kami memutuskan menunggu tayo selanjutnya. Dan teryata yang datang patas, duh. Karena uang kami baru berkurang untuk membayar tayo yang tadi, dengan gaya gaya sok banyak duit naiklah kami. Kesan saya untuk bis patas adalah harga sesuai sih dengan fasilitasnya, oke banget. Kami memilih tanpa makan dengan membayar Rp45.000,00 dengan niatan irit hehe. Jadi ketika patas berhenti di rumah makan, kami hanya beli makanan ringan seperti tahu bakso, siomay, kentang goreng, dan lain-lain dengan kisaran harga Rp10.000,00 untuk mengganjal perut. Sekitar pukul 13.00 WIB kami sampai di Terminal Giwangan. Kami melanjutkan perjalanan ke Sewon, Bantul (kediaman Nizar) dengan menggunakan Grab.

Setelah sampai rumah kami bersih-bersih, istirahat, cari makan dan merencanakan perjalanan. Kami cari makan di sekitaran kampus ISI, kalau di Jogja gak perlu mikir harga saya kira, murah pasti. Malam ini kami ingin memulai perjalanan, tapi tiba-tiba malamnya hujan dan kami bimbang untuk pergi ke Pinus Pengger. Untuk mengobati kegagalan rencana kami, akhirnya pada pukul delapan malam kami pergi ke Alun-alun Kidul menggunakan grab. Nizar tidak ikut karena tiba-tiba badannya panas. Kami jalan-jalan mengelilingi alun-alun dan jalan jauh ke Plengkung Gading. Kami kembali kerumah setelah capek jalan.

Hari kedua di Jogja kami menyewa motor untuk jalan (bagian ini saya ceritakan secara terpisah ya hehe). Kami berangkat ber-lima karena Nizar  masih sakit, jadi kami bergantian pasangan motor agar semua merasakan sendiri. Karena kami tidak mengenali medan, jadilah kami mempercayakan google maps sebagai pemandu kami. Tujuan pertama adalah Kebun Matahari Bantul. Kebun bunga ini ternyata masuk ke kawasan pantai-pantai. Ketika memasuki kawasan wisata kami dikenai biaya tiket Rp10.000,00 (padahal ditiket tertera Rp9.750,00). Setelah menempuh jalan hampir sekilo, bunga-bunga mulai terlihat. Kami mengira bahwa kebun bunganya satu kawasan, ternyata salah. Kebun bunga disini dimiliki oleh perorangan, jadi pinter-pinternya kita untuk memilih kebun mana yang akan dimasuki. Kami juga salah masuk kebun bunga, awalnya saat parkir (bayar lagi Rp2.000,00) kami kira satu kawasan, ternyata setelah masuk baru kami sadar, bunga matahari bagus yang kami lihat saat parkir berada dikawasan kebun bunga sebelah. Disini antar kebun bunga dipagar rapat. Rata-rata setiap kebun memasang tarif Rp5.000,00 per-orang. Setelah puas menikmati kebun bunga kami sempatkan untuk berhenti diwarung ibu pemilik kebun untuk membeli es karena cuaca sangat panas. Disini kami mendapat informasi bahwa jika kami masuk ke pantai-pantai yang masuk kawasan wisata ini kami tidak akan dikenakan tarif lagi, tetapi tetap harus membayar parkir. Dan pantai paling bagus adalah Goa Cemara. Kebetulan wisatawan lain juga bertanya mengenai informasi yang ingin kami dapatkan, sejauh apa Gumuk Pasir dari kebun ini. Beliau menuturkan bahwa Gumuk Pasir berada didaerah Pantai Parangtritis dan itu jauh dari kebun ini ‘Lebih kurang setengah jam dari sini’, tutur ibu tersebut. Berarti akan semakin jauh dari rumah Nizar. Kami langsung mencoret Gumuk Pasir ada dilist perjalanan kami, ‘Kita ke Pantai Goa Cemara saja’. Oke langsung tanpa pikir panjang kami mengambil motor berangkat. Biaya parkir per-motor Rp3.000,00. Kalau ke pantai selatan jangan berharap bisa main air ya, soalnya tau sendiri kan ombaknya kayak apa hehe. Jadilah kami hanya muter-muter dan mendengarkan ombak yang sangat menenangkan. Disini tidak terlalu ramai, jadi tenang untuk sekedar bengong-bengong ria. Setelah puas, kami langsung meninggalkan kawasan tersebut untuk mencari makan.

Makan siang kami memilih di Sambal SS karena sudah pasti enak dan pedas meskipun harus menunggu cukup lama. Sambal SS yang kami tuju yaitu yang ada di jalan menuju ke Taman Sari, jadi sejalan gitu. Kami sampai taman sari sekitar setengah tiga. Membayar parkir Rp3.000,00 dan tiket masuk Rp5.000,00. Tips kalau ke taman sari untuk hunting foto sebaiknya jangan saat libur sekolah atau hari Sabtu Minggu. Tempat ini akan ramai, penuh, sesak, dan pengap khususnya di masjid bawah tanah. Oiya jangan sungkan untuk tanya tour guide yang ada disekitar ya, yang memakai seragam. Tidak ada salahnya menyewa tour guide untuk mengetahui berbagai informasi situs sejarah dan juga arah jalan tentunya. Pengalaman kami selama disana, kami kira setelah kolam dan bangunan yang ada dibelakang kolam (saya lupa namanya) itu sudah selesai. Kami bingung karena di internet ada tangga-tangga (ternyata itu masjid bawah tanah wkwk) tapi kami tidak menemukan. Kami sudah keluar, tapi belum puas. Saat bertemu dengan bapak tour guide saya beranikah bertanya dengan bermodal foto hasil comot internet, dan bapak tersebut menyebutkan ‘Masjid Bawah Tanah’. Kami masuk lagi ke kawasan wisata lewat pintu keluar tadi. Didalam kami bingung lagi harus kemana, dan akhirnya kami bertanya lagi dengan bapak yang berseragam. Dengan arah-arah yang diberikan beliau kami ikuti, ternyata ada jalan yang melewati pemukiman warga. Tidak hanya masjid bawah tanah, ternyata Kampung Cyber juga dikawasan ini. Denah wisata harusnya dipasang ketika pintu masuk utama, tapi ini malah di jalan perkampungannya hm. Butuh cukup banyak tenaga untuk sampai didalam masjid bawah tanah karena jalannya naik turun. Didalam kami tidak menemukan kenyamanan, mungkin karena hal yang saya sebutkan diatas. Baru sebentar kami masuk, langsung kami keluar untuk istirahat dan kembali ke parkiran. Tempat bersejarah ini sangat apik untuk pengambilan foto.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mencari masjid. Dipintu keluar Taman Sari ada Masjid Kasultanan Yogyakarta, tapi ramai. Akhirnya kami ke masjid Alun-alun Lor. Dan setelah itu kami kembali pulang.

Malioboro menjadi pilihan malam terakhir kami di Jogja. Esoknya kami pulang. Terimakasih Jogja, sampai berjumpa kembali.

Kamis, 17 Januari 2019

Jangan Berkendara saat Hujan Jika Bisa

Saya jadi tahu satu hal lagi kenapa saya belum boleh bawa motor sendiri, hujan. Ketika hujan ada 2 pilihan, basah sampai rumah atau berteduh tidak sampai sampai karena hujan sulit sekali diprediksi. Semalam saya bersama Ivana, Ifa, Bella, Mukhlisin, dan Sindu dari kediaman Betty kehujanan meskipun dengan jas hujan. Awalnya kami terjebak di rumah Betty hingga beberapa jam menunggu hujan reda, lama. Sampai-sampai kami makan dulu dirumah Betty, menghabiskan semua jajan, dan bermain uno stako hingga beberapa putaran. ketika memasuki isya, ivana sudah merajuk pulang karena takut kena omelan mamanya. Dan bertepatan hujan reda, tapi menyisakan rimis tipis. Kami semua pamit kepada Betty dan keluarga. Beberapa dari kami mengenakan jas hujan, termasuk saya. Baru saja kami berkendara, belum ada sekilo, hujan deras turun lagi. Hujan sama derasnya dengan yang tadi, atau bahkan lebih deras. Semakin masuk ke Bojonegoro kota hujan semakin deras dan rintiknya besar-besar, sakit. Jalan-jalan hampir semua tergenang air, banjir. Ada yang parah ada yang tidak. Menyetir dibawah deras hujan sangat berat, apalagi jalanan juga banjir. Saya tidak bisa hanya mengandalkan kedua mata saya, Bella dibelakang juga menggunakan matanya untuk mengarahkan saya, kami kolaborasi. Pelan-pelan yang penting sampai rumah, hanya itu pikir kami. Saya tidak berani mengambil jalan pinggir karena bisa saja lebih dalam banjirnya. Menerjang banjir sulit dan berat. Meskipun saya menggunakan jas hujan pada akhirnya saya tetap basah kuyup. Berkat Bella, kami sampai dengan selamat dirumahnya. Andaikan kami tidak berdua, mungkin saya tidak sanggup untuk menyetir motor dibawah hujan deras. Saya capek, sangat.

Rabu, 09 Januari 2019


M A L A N G
[Cerita mengenai Backpacker dan Aplikasi Go Jek]

Perjalanan ini saya tempuh dengan enam teman saya, Desta, Reza, Fida, Galuh, Widia, dan rengga. Dua cowok dan lima cewek. Selasa, 18 Desember 2018 di Surabaya menjadi awal mula perjalanan kami. Ini bukan pekan liburan, kami masih ada beberapa tanggungan ujian perbaikan atau populer disebut ‘UP’ oleh anak kampus A. Minggu ini tidak sesibuk dua minggu UAS kemarin, jadilah kami nekat ke Malang. ‘Kapan lagi kalau nggak sekarang?’ pikir kami.

Pagi hari saya ditugasi Desta untuk membeli tiket di Gubeng Lama, tiket go show untuk siang hari. Nihil, tiket sudah lama habis (termasuk yang berdiri) yang ada hanya tiket untuk malam jam delapan. Berbekal chat group akhirnya kami sepakat mengambil tiket yang berharga Rp10.000,00 tersebut setelah perdebatan panjang. Saya membeli tiket empat dengan tujuan Stasiun Malang Kota Baru. Siangnya Rengga dan Widia membeli tiga tiket dengan tujuan yang sama hanya saja kami pisah gerbong.

Kami kumpul di Stasiun Gubeng Baru, jam 19.50 WIB kereta kami berangkat. Dan seperti yang tertera di tiket, kami sampai di Malang pada pukul 22.28 WIB. Ini adalah perjalanan ternekat dan tanpa tujuan. Keluar dari stasiun kami ngemper dulu, sudah seperti bocah hilang saja haha. Kami semua mengandalkan telepon genggam dan internet untuk mencari masjid terdekat. Ya, demi menghemat kami memutuskan untuk menginap masjid saja. Sebelum mulai pencarian kamu sempat singgah di taman dekat stasiun dan menunggu Reza beli minum, lumayan lama soalnya disini kami menemukan tempat duduk dan eyel-eyelan mengenai pembacaan peta (maklum, tidak semua dari kami pandai membaca peta, semua cewek tidak bisa termasuk saya). Dengan berbekal google maps dan kepercayaan kami, Desta mencari masjid terdekat. Masjid pertama yang kami tuju ternyata masjid sekolah (yakali aja kami nginep di masjid sekolah hmm). Ok, dengan sedikit pengetahuan Fida dan Google Maps (yang masih dibaca Desta) kami memutuskan untuk ke masjid Alun-Alun Malang yang ternyata sudah tergembok rapat (Ya Allah, sepertinya niat kami salah makanya masjid gaada yang bukaan). Ini lebih parah, salah satu teman kami ada yang kebelet buang air kecil dan mendekati masjid barangkali kalau hanya numpang ke kamar mandi boleh, baru aja nyentuh gagang pintu dan mengakibatkan bunyi sedikit sudah membuat si bapak penjaga bernada tinggi dan bermaksud mengusir kami. Ok, kami pergi ke Alun-alun saja. Semua perjalanan kami sampai sini kami tempuh dengan jalan kaki, namanya juga jalan-jalan.

Sekitar pukul setengah duabelas malam kami sampai ditempat duduk dekat air mancur, kami memutuskan untuk tidak tidur dan akan menyusun rencana untuk wisata esok pagi. Kami mulai berdebat dan voting untuk tujuan dan estimasi waktu yang kami perlukan. Dan yang paling penting adalah akomodasi kami. Kami membagi tugas, ada yang membuka google maps, grab, go jek, dan browser. Pertama kami mencari transportasi umum dan biayanya, setelah itu kami melakaukan banding harga dengan aplikasi go jek dan grab. Ternyata selislihnya beda tipis, dan kami memututuskan untuk menggunakan go jek (go-car large berkapasitas tujuh orang) dengan  beberapa pertimbangan. Menggunakan aplikasi go jek ternyata juga perlu strategi, pasalnya ketika kami langsung pin dari alun-alun ke paralayang bertarif seratus lebih. Tetapi ketika kami pin dari Alun-Alun Malang ke Alun-Alun Kota Batu dan kami lanjutkan Alun-Alun Kota Batu ke Paralayang totalnya hanya Rp80.000,00 jadi disini kami main hitung-hitungan dan pintar-pintar cari rute. Pokoknya gak habis banyak di transpot, titik.

(rencana perjalanan)


Semakin malam, untungnya kami semua membawa jaket dan minyak kayu putih (ini sangat membantu). Akhirnya satu per satu mengantuk dan memutuskan untuk bergantian tidur, kami tidur dengna bantal tas dan tanpa alas. Ini sangat tidak patut untuk dicontoh, pasalnya liburan harus dalam keaadan fit dan tidur cukup itu keharusan yaaa… . Reza adalah yang berhasil tidak tidur semalaman, dan dia curi-curi tidur di dalam grab, kami harus memaklumi dan sangat berterimakasih. Terimakasih Reza

Ketika suara ngaji menjelang  subuh terdengar kami semua beranjak untuk ke masjid tujuan kami semlam. Kami sepakat setelah subuh kami akan ke stasiun untuk membeli tiket go show . Jadi sebelum subuh kami semua sudah harus mandi dan bersiap diri. Kami salat subuh  berjamaah dan setelah itu langsung jalan kaki menuju stasiun semalam. Daaaann…. tiket yang masih ada hanya jam 12.26 dan itupun tanpa tempat duduk (berdiri). Kami rundingan lagi, ‘Masa iya kita ubah rencana lagi’ kata salah satu kami. Ok, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya menggunakan tayo (bis), yang artinya pengeluaran kami akan bertambah. Tapi daripada tidak pulang atau hanya sebentar berwisata, tayo adalah penyelamat ketika thomas (kereta) tidak ada haha terimakasih tayo. Rencana wisata sudah matang, yuk mari kita jalan…sebelumnya kami patungan Rp30.000,00 untuk mengisi saldo go pay. Dan ini masih sangat pagi.

Drama selanjutnya adalah top up go pay. Cara pertama yang kami lakukan adalah melalui ATM BNI (ini atm satu-satunya yang ada distasiun) entah kami yang kurang canggih atau memang di menu-nya tidak ada. Sudah berulang kami coba dengan berbagai orang yang berbeda. Akhrinya dua orang dari kami mencari atm lain yang tidak jauh, kira-kira 100m ada ATM BRI, dan seperti awal tidak bisa. Lalu satu dari kami go jek sampai ke alfamart terdekat untuk top up, dan si kasir memberi informasi bahwa top up dapat dilakukan mulai pukul tujuh pagi. Dan ini masih sangat pagi. Kami tidak mungkin menunggu hingga pukul tujuh. Akhirnya kami mengawali perjalanan dengan grab dibayar dengan OVO dan menggunakan promo, tidak apa sedikit lebih mahal daripada harus tertunda berjam-jam.

Tujuan pertama kami menuju ke alun-alun batu untuk sarapan, kami pencar mencari sarapan sesuai selera. Dan disini meskipun masih pagi, banyak sekali makanan (saya suka sekali, saya suka makan). Ada singkong keju, cakue, bubur ketan, bubur kacang hijau, bubur ayam, pecel, nasi uduk, nasi kuning, pertula, dan masih banyak lagi. Setelah sarapan kami menuju ke Paralayang. Dan kami sudah berhasil mengisi saldo go pay.

Paralayang, supir go car adalah drama selanjutnya. Bapak driver memberi informasi sekaligus promosi yang isinya seperti ‘Kamu harus percaya dengan saya dan lakukan saran saya’ serta tidak lupa seperti mengintimidasi, saya tidak suka. Si bapak menawarkan untuk tour dengan biaya per orang Rp100.000,00 (yakali pak, kami mahasiswa kere ini. Bapak nggak liat apa kami gembel? Wkwk). Tapi salah satu informasi dari bapaknya ada yang benar dan lainnya kami anggap bualan karena memang tidak sesua dengan yang dibicarakan. Ketika mencari go car untuk naik ke paralayang banyak driver yang mau mengambil, tapi untuk turun kami harus mengandalkan keberuntungan karena di daerah batu bagian atas hampir tidak ada go car. Untunglah kami pergi ke Paralayang bertepatan musim liburan sekolah, jadi kami bisa turun karena lumayan banyak go car yang naik sehingga kami mendapatkan go car untuk turun. Di Paralayang ini ada kami harus membayar Rp10.000per orang untuk masuk dan gratis untuk driver karena masih pagi dan hanya bertujuan menurunkan kami. Selain Gunung Banyak ada dua pilihan wisata lain yang ditawarkan yaitu Rumah Pohon dan Taman Langit yang masing-masing dipasang tarif Rp10.000,00. Setelah puas berfoto dan berkeliling kami order go car untuk lanjut ke Coban Rais. Setelah sampai, kami membayar Rp10.000,00 perorang untuk tiket masuk. Baru saja masuk, kami berhenti didepan peta wisata ‘air terjun 5km', bisa setengah jam kita kalo jalan kesana. Kalo nggak dapet go car mati kita. Ini tempatnya tinggi banget loh, kalian sih tadi tidur. Tinggi polll… .’ Ok, kita foto sebentar dan Rengga beli oleh-oleh dan kemudian memesan grab lalu kami keluar. Jangan bayangkan ini sudah sore, ini masih siang bolong dan baru mau memasuki salat dhuhur. Tapi tidak mendapatkan go car dan tidak bisa turun adalah suatu bayangan yang buruk. Jadi jika ingin ke Coban Rais mending dari pagi dan masih dalam keaadan sangat fit, karena kalau mau jalan lumayan jauh. Tapi capek-capek pasti akan terbayar, lalu disini juga tidak hanya air terjun saja, banyak pilihan wisata lain seperti Batu Flower Garden dan masih banyak lagi. Sayang sekali kami harus pergi. Oiya selain jalan, sebenarnya ada ojek yang saya tidak tahu tarifnya. Menurut informasi yang saya dapat (semoga benar) tarif ojrk berkisar Rp10.000,00 disetiap tujuan. Yaitu Ke bukit bulu - batu flower garden- coban rais, karena coban rais menyuguhkan banyak pilihan wisata sebelum mencapai air terjunnya. Jika langsung ke air terjunnya saya kurang tahu harganya. 

Go car selanjutnya menuju ke masjid A.R. Fachruddin kampus UMM untuk salat Dhuhur karena sudah waktunanya dan dilanjutkan dengan mencari makan disekitar kampus agar dapat harga murah. Setelah itu main UNO disekitaran kampus sambil menunggu salat ashar dan setelah itu menuju ke Terminal Arjosari untuk naik bis ekonomi yang bertarif sekitar Rp15.000,00 (saya agak lupa). Yang saya ingat, kami terjebak macet karena ini musim liburan. Dan drama selanjutnya adalah kami kemalaman sampai di Terminal Bungurasih dan harus turun dalam keadaan hujan. Kami lanjut naik bis menuju Jembatan Merah dan memesan Grab menuju ke Stsiun Gubeng Baru. Dan sampai kost. Alhamdulillah… meskipun banyak tujuan wisata yang kami lewatkan, selanjutnya semoga perjalanan lebih baik, amin.

Foto perjalanan saya ada di highlight instagram saya @elnikenw

[Cerita tambahan] 
Antara Thomas dan Tayo
Thomas adalah transportasi terbaik dengan harga yang murah (atau sangat murah) meskipun terkadang harus tanpa tempat duduk, atau mbak-mbak bagian tiketing yang akward. Jadi ketika Rengga membeli tiket, si mbak bilang kalau tiket tujuan malang sudah habis, bisanya hanya sampai lawang. Dan lawang samapi malang kota itu masih jauh. Akhirnya aku bilang ke rengga ‘Beli aja Reng daripada nggak berangkat, ntar waktu sampe lawang kamu, Widia, dan Galuh gausah turun. Gapanglah.’ Pas mau dibeli dan si mbaknya bilang kalau tanpa tempat duduk, haduh mampus. Karena kami berempat dapat tempat duduk, nanti tempat duduknya bisa kita gantian lah, atau duduk yang awalnya dua orang bisa dipakai untuk bertiga. ‘Beli aja Reng, gapapa. Nanti kita gantian duduknya.’ (kira-kira percakapannya seperti itu si). Dan setelah tiket dicetak ternyata tiketnya sama seperti tiket yang aku beli, persis hanya beda gerbong saja, dapat tempat duduk dengan tujuan akhir Stasiun Malang Kota Baru. Oh Mbak, terimakasih sudah membuat kami kebingungan setelah banyak sekali drama.

Categories:

Dengarkan Kata Bapak

9 Januari 2019
Ada yang harus saya syukuri hari ini. Saya bersyukur saya mendengarkan kata ayah, 'Jangan bawa motor'. Meskipun ibu saya memberi izin, untunglah saya lebih takut kepada ayah saya. Jujur, larangan itu menganjal hati saya, saking sakitnya sqya menitihkan air mata diam-diam. Yang biasanya saya pamit selalu cium pipi dan mengucap salam, hari ini tidak (astagfirullah). Saya fikir saya sudah cukup dewasa untuk bisa membawa motor walaupun tanpa SIM, toh tidak ada operasi. Tapi salah besar, ternyata baru saja memasuki Bojonegoro saya langsung disambut oleh banyak sekali polisi. Untunglah, saya naik bis umum. Disitulah hati saya mulai melunak, ayah saya teramat sayang dengan saya. Saya yakin alasan beliau bukan hanya terkait dengan SIM, keselamatan saya.

Rabu, 13 September 2017

Frame gantung lampu tumblr

Remaja dan keunikan, 2 hal yang saling berkaitan. Remaja yang menggemari keunikan dan keunikan yang dipancarkan oleh remaja, merupakan daya tarik yang sangat menarik. Pada era globalisasi ini banyak fotografi yang dapat dijumpai di berbagai sosial media. Seperti halnya di tumblr yang memiliki seabrek foto kamar tidur yang saking cantiknya, seolah terlihat dari dunia mimpi. Bagi remaja yang sebagian terbesarnya waktunya berada disekolah, dan kedua barulah berada dirumah. Remaja yang kecenderungannya lebih menutup diri dari sebelumnya, hal ini yang membuat remaja betah berlama-lama berada di kamar tidur. Kamar tidur yang nyaman pasti akan membuat pemiliknya betah dan istirahatpun akan menjadi semakin efektif.  Memiliki kamar tidur yang bagaikan mimpi, menjadi dambaan bagai sebagian besar remaja putri tentunya. Nah, dalam artikel kali ini saya akan menjelaskan cara membuat frame gantung dari bahan-bahan bekas yang berada disekitar kita. Daripada barang bekas menjadi sampah, lebih baik kita gunakan kembali untuk dijadikan hal-hal yang berguna dan bernilai.



Bahan :
*Koran bekas
*Kardus bekas
*Kertas kado bekas/lebihan
*Foto kecil (ukuran 3x4 dan ukuran dompet)
*Penjepit kertas ukuran besar
*Gliter (warna sesuai selera)
*Mika plastik

Alat :
*Lem kertas
*Gem g/ lem uhu (tidak danjurkan menggunakan lem castol karena berwarna kuning, usahakan lem bening)
*Gunting
*Cutter
*Pelubang kertas
*Pensil
*Double tape
*Amplop (dapat diganti dengan wadah lain)

cara membuat frame luar

1. Potong koran menggunakan cutter menjadi beberapa bagian persegi panjang yang simetris sesuai dengan kebutuhan (1 lembar saya bagi menjadi 16 dan 36 lembar)

2. Gulung kertas hingga menjadi gulungan kecil dan kaku, beri lem kertas diujung gulungan agar gulungan tidak lepas dan rapi.

3. Lapisi gulungan menggunakan double tape secara mengeliling.

4. Siapkan amplop dan tuang gliter ke dalamnya (saya menggunakan amplop agar gliter tidak mudah tumpah)
5. Lepas penutup dauble tape dan masukkan gulungan kedalam amplop, ratakan gliter hingga menutupi seluruh bagian gulungan.

cara membuat frame belakang
1. Ukur foto diatas karton bekas, tiap sisi berikan lebihan selebar 1cm dan tandai dengan pensil.
2. Potong karton yang yang telah berpola.

3. Lapisi karton menggunakan kertas kado bekas. beri lebihan 1cm disisi kanan dan kiri sehingga terlihat menyerupai persegi sama sisi. lem pada semua bagian.

cara membuat frame
1. Ukur mika plastik sesuai dengan foto, beri lebihan dibelah sisi kanan, kiri, dan bawah selebar yang anda inginkan untuk ditempeli double tape.
2. Lepas penutup double tape dan rekatkan mika ke frame belakang.

3. Rekatkan gulungan gliter mengeliling untuk menutupi double tape.
4. Beri hiasan gulungan gliter sesuai selera anda

5. Pada bagian atas tengah lubangi menggunakan pelubang kertas.

6. Paitkan pelubang kertas dengan penjepit kertas

7. Kaitkan penjepit kertas dengan lampu tumbr (atau dapat pula dikaitkan pada tirai)
selesai...

SELAMAT MENCOBA!

Categories:

Jumat, 08 September 2017

Buket Anak Sekolah

Buket, siapa sih yang nggak kenal? hampir semua orang dari semua kalangan usia pasti mengethuinya. Setelah melalui sejarah yang panjang, akhirnya buket kini memiliki banyak variasi. Mulai dari buket bunga, buket snack, buket coklat, dan lain-lain. Buket ini biasanya dibeli untuk diberikan sebagai hadiah kelulusan, ulang tahun, dan masih banyak jenis perayaan lainnya. Nah selain menarik, buket juga memiliki harga yang relatif mahal bagi kalangan para siswa tentunya (seperti saya hehe). Ternyata pembuatan buket ini tidak serumit yang terlihat, bahkan dapat dikatakan sangat mudah. Nah dalam tulisan saya kali ini, saya akan memberikan panduan cara membuat buket alat tulis yang cocok untuk diberikan kepada anak-anak yang masih sekolah sebagai hadiah ulang tahun atau hadiah kenaikan kelas. Oiya, hal ini dapat dilakukan sendirian yaaa..






Alat:
gunting
solasi


Bahan:
macam-macam alat tulis
pita
kertas pembungkus




Cara pembuatan
1. Gunakan sampul mika gulung sebagai tangkai utama.
2. Susun satu per satu alat tulis berkaitan dengan mika gulung, rekatkan dengan solasi
tips1: jika mempunyai double tape, dapat digunakan sebagai pengganti solasi
tips2: alat tulis disusun dari yang terbesar hingga terkecil, sehingga alat tulis kecil tetap dapat terlihat
3. Letakkan rangkaian alat tulis diatas kertas pembungkus yang terlebih dahulu disusun (usahakan wajah kertas berada di bawah agar terlihat menarik) mulai lipat bagian bawah kertas dan kreasikan menyesuaikan bentuk rangkaian alat tulis hingga terlihat menarik.
4. Ikat bagian bawah buket menggunakan solasi hingga beberapa putaran.
5. Tali bagian lilitan solasi menggunakan pita dan tali pita dengan cantik.
Buket alat tulis sudah siap...

Selamat mencoba dan semoga beruntung
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca

Categories:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Copyright © Moccamoc | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑